Kamis, 15 Oktober 2015

makalah tentang pernikahan adat Yogyakarta

Nama : Ernestina Fortune A
Kelas : 4EA11
NPM : 12212544

ETIKA BISNIS

MAKALAH TENTANG PERNIKAHAN ADAT YOGYAKARTA


Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah Adat Istiadat ini tepat pada waktunya yang berjudul “MAKALAH TENTANG PERNIKAHAN ADAT ISTIADAT YOGYAKARTA”
Makalah ini berisikan tentang informasi, tata cara melaksanakan pernikahan adat Yogyakarta dan  perlengkapan - perlengkapan yang dipergunakan pada upacara nikahan ada Yogyakarta. 
Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang upacara adat atau tradisi Yogyakarta.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Tuhan memberkati.


Pendahuluan


1.1. Penjelasan

Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan nan terkenal akan kekayaan budayanya. Kebudayaan tersebut tumbuh dan berkembang dari daerah-daerah nan masih memegang teguh adat istiadatnya. Melalui adat istiadat nan masih dipertahankan oleh masyarakat menjelmalah sebuah kebudayaan nan akhirnya menjadi bukti diri masyarakatnya khususnya, dan Indonesia umumnya.
Adat istiadat merupakan kebiasaan-kebiasaan nan dianut masyarakat suatu daerah secara turun temurun. Biasanya di dalam adat istiadat tersebut berisi aturan-aturan nan telah menjadi konvensi masyarakat dalam menjalankan suatu hal.
Adat istiadat dapat diartikan sebagai norma-norma nan terdapat dalam suatu masyarakat dan dibentuk berdasarkan konvensi maupun warisan dari leluhur. Norma-norma ini terlepas dari aturan-aturan nan terdapat dalam agama dan bersifat kontekstual (setiap daerah dan masyarakat mempunyai adat istiadat nan berbeda).
Namun adat istiadat ini tak hanya bersifat anggaran dalam berperilaku, warisan-warisan adat ini pun ada nan berbentuk materiil, seperti rumah, pakaian, dan sebagainya.
Salah satu daerah di Indonesia nan masih sangat mempertahankan adat istiadatnya ialah Jawa Tengah. Adat istiadat Jawa Tengah sampai saat ini masih sangat dipertahankan walaupun agresi modernisasi dan globalisasi tengah melanda Indonesia.

Melalui adat istiadatnya nan terus dipertahankan, Jawa Tengah saat ini dikenal dengan daerah dengan segudang kebudayaan dan keseniaan. Bahkan banyak nan menyebut Jawa Tengah merupakan kota budaya dan seni, tepatnya di Yogyakarta.

1.2. Tujuan 

Karena menjaga, memelihara dan melestarikan kebudayaan merupakan kewajiban setiap individu, maka dalam realisasinya saya mencoba menyusun makalah yang berjudul Kebudayaan Jawa Tengah yang didalamnya mengulas tentang berbagai kebudayaan tradisional Jawa Tengah. Penyusunan makalah yang berjudul Budaya Jawa Tengah ini bertujuan agar pembaca mengetahui bahwa Jawa Tengah merupakan daerah yang kaya akan budaya serta menyadari bahwa menjaga dan melestarikan kebudayaan daerah merupakan kewajiban dari setiap orang.



Teori


adat adalah gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai - nilai kebudayaan, norma, kebiasaan, kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan di suatu daerah. apabila adat ini tidak dilaksanakan akan terjadi kerancuan yang menimbulkan sanksi tak tertulis oelh masyrakat setempat terhadap pelaku yang dianggap menyimpang. 
asal kata adat, menurut Jalaluddin Tunsam (seorang yang berkebangsaan Arab yang tinggal di Aceh dalam tulisannya pada tahun 1660). "adat" berasal dari bahasa arab yang berarti cara atau kebiasaan.
di Indonesia kata "adat" baru digunakan pada sekitar akhir abad 19. sebelumnya kata ini hanya dikenal masyarakat melayu setelah pertemuan budayanya dengan agama Islam pada sekitar abad 16-an. kata ini antara lain dapat dibaca pada undang - undang negeri melayu.

upacara pernikahan adalah upacara adat yang diselenggarakan dalam rangka menyambut peristiwa pernikahan. pernikahan sebagai peristiwa penting bagi manusia, dirasa perlu disakralkan dan dikenang sehingga perlu ada upacaranya. di Indonesia, upacara pernikahan secara tradisional dilakukan menurut aturan - aturan adat setempat. Indonesia memiliki banyak sekali suku yang masing - masing memiliki tradisi upacar pernikahan sendiri. dalam suatu pernikahan campuran, pengantin biasanya memilih salah satu adat, atau ada kalanya pula kedua adat itu dipergunakan dalam acara yang terpisah.

Di Jawa seperti juga ditempat  lain, pada prinsipnya perkawinan terjadi karena  keputusan dua insan yang saling jatuh cinta.Itu merupakan hal yang prinsip. Meski ada juga perkawinan yang terjadi karena dijodohkan orang tua yang terjadi dimasa lalu.Sementara orang-orang tua zaman dulu berkilah melalui pepatah : Witing tresno jalaran soko kulino, artinya : Cinta tumbuh karena terbiasa.

Di Jawa dimana kehidupan kekeluargaan masih kuat, sebuah perkawinan tentu akan mempertemukan dua buah keluarga besar. Oleh karena itu, sesuai kebiasaan yang berlaku, kedua insan yang berkasihan  akan memberitahu keluarga masing-masing bahwa mereka telah menemukan pasangan yang cocok dan ideal untuk dijadikan suami/istrinya.

Bibit, Bebet, Bobot

Secara tradisional, pertimbangan penerimaan seorang calon menantu berdasarkan kepada bibit, bebet dan bobot.
Bibit      :artinya mempunyai latar kehidupan keluarga  yang baik.
Bebet   : calon penganten, terutama pria, mampu memenuhi kebutuhan keluarga.
Bobot  : kedua calon penganten adalah orang yang berkwalitas, bermental baik dan berpendidikan cukup
Sebelum melaksanakan upacara adat pernikahan, yang pertama kali harus dilakukan adalah memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa agar acara dapat berlangsung dengan baik dari awal sampai akhir.
Masyarakat Jawa Tengah dan sekitarnya akrab dengan budaya leluhur, bila akan melaksanakan sebuah hajatan, biasanya tak akan lupa menyediakan sesajen di berbagai tempat tertentu, khususnya di sekitar rumah.

Prosesi Upacara Pernikahan Adat Jawa Tengah adalah sebagai berikut:

1. Bersih Lahir Batin
Sebelum kedua mempelai terikat perkawinan, Sebelum pesta perkawinan tradisonal ini dilangsungkan, keduanya harus dibersihkan terlebih dahulu baik lahir maupun batin. Tujuannya agar kedua calon mempelai benar-benar bersih dari segala hal dan siap menyongsong status sebagai suami istri dalam keadaan bersih.

 2. Midodareni
Midodareni adalah acara perkenalan dan silaturahmi antar keluarga. Dari pihak pria dilakukan oleh sesepuh dan keluarga dekat pengantin pria. Selain itu wakil orang tua pengantin pria juga dibekali dengan bingkisan balasan sebagai tanda kasih sayang dari keluarga pengantin wanita.
Prosesi midodareni ini adalah awal dari rangkaian pesta pernikahan tradisonal yang biasa dilakaukan di Jawa.
 
3. Upacara Injak Telur
Selanjutnya, Upacara dan Pesta Pernikahan Tradisional ini dilanjutkan dengan Upacara Injak Telur. Acara ini mengandung harapan bagi pengantin wanita untuk segera mempunyai keturunan, karena injak telur ini identik dengan pecah wiji dadi. Telur ini juga mempunyai makna sebagai keturunan yang akan lahir sebagai cinta kasih berdua. Kemudian dilanjutkan mencuci kaki pengantin pria yang dilakukan oleh pengantin wanita yang melambangkan kesetiaan istri pada suaminya.
 
4. Sikepan Sindur
Setelah acara injak telur selesai dilanjutkan dengan sikepan sindur yang dilakukan oleh ibu pengantin wanita. Sindur ini akan dibentangan pada kedua bahu mempelai. Adapun makna upacara ini mengandung harapan bahwa dengan sinfur tersebut kelak keduanya akan semakin erat karena dipersatukan dengan ibunda.
Sedangkan tugas ayah sebagai kepala rumah tangga berjalan di muka sebagai pemandu anak mengikuti langkah terbaik dalam hidup yang akan dijalani. Sang ayah bertugas sebagai penunjuk jalan kehidupan di masa depan dan hal ini perlu dijadikan contoh bagi pasangan baru.
 
5. Acara Pangkuan
Acara pangkuan disebut juga dengan istilah timbang bobot. Pada acara ini pengantin pria duduk di paha sebelah kanan dan pengantin wanita duduk di paha sebelah kiri sang ayah pengantin wanita, yang kemudian ditanya oleh sang ibu mana yang lebih berat dan dijawab sama berat.
Pada saat ini sang ayah seakan-akan sedang menimbang keduanya yaitu antara anak kandung dan menantu. Maknanya adalah bila kedua mempelai sudah mempunyai keturunan akan memiliki kasih sayang kepada putra-putrinya sebagaimana layaknya sang ayah memiliki kasih sayang yang sama antara anak kandung dan anak menantu.
 
6. Kacar-Kucur
Tahap upacara panggih adalah kacar-kucur. Acara ini melambangkan kesejahteraan dan tugas mencari nafkah dalam kehidupan berumah tangga yang dilakukan dalam bentuk biji-bijian, beras kuning, uang recehan yang semuanya diberikan kepada ibu. Begitu berat tugas suami dalam mencari nafkah, begitu juga istri dalam mengelolanya. Meski begitu mereka tetap ingat kepada orang tua mengingat perannya yang sangat besar dalam kehidupan seseorang.
 
7. Dahar Klimah | Dulang-dulangan
Acara selanjutnya adalah dahar klimah atau dulang-dulangan. Acara ini cukup menarik dan seru karena kedua mempelai saling menyuapi yang dilakukan sebanyak tiga kali dan dilanjutkan dengan minum air putih.
Proses ini sebenarnya mengandung harapan agar kedua mempelai senantiasa rukun, saling tolong menolong serta sepenanggungan dalam menempuh hidup baru. Selain itu juga mengandung makna sebagai ungkapan saling mencintai dan saling memperhatikan pada pasangan.
 
8. Titik Pitik
Setelah dahar klimah, upacara titik pitik pun dilaksanakan. Yaitu saat besan datang untuk menyaksikan upacara sakral tersebut. Dengan hadirnya besan berarti keluarga semakin berambah besar dan menjadi satu kesatuan yang kuat sebagai keluarga.
 
9. Ngabekten | Sungkeman
Ngabekten biasa disebut dengan istilah sungkeman atau menyembah. Sungkeman pertama ditujukan kepada orang tua yang diteruskan kepada para sesepuh lainnya seperti nenek, kakek dan sebagainya.
Sungkeman ini dilakukan dengan penuh takzim dan membuat suasana haru, karena pasangan muda ini sangat awam dalam menghadapi persoalan kehidupan rumah tangga. Padahal sejak itu mereka harus melangkah sendiri dan akan menjadi orang tua bagi anak-anaknya kelak. Oleh sebab itulah bekal berupa doa restu merupakan hal yang sangat penting dan ditunggu-tunggu oleh pasangan pengantin.


ANALISIS


pelaksanaan upacara pernikahan adat Yogyakarta meneruskan warisan dari nenek moyang dengan pesan - pesan pendidikan terhadap masyarakay. hal ini bisa dipahami sebagaimana masyarakat Jawa adalah gudang lambang. banyak tindakam dan ucapan orang Jawa yang diwujudlan dengan lambang - lambang. simbol bukan saja membangkitkan gambaran dalam kesadaran pemeluk agama, dengan mengantar dan menetapkan manusia dengan realitas ilahi pada manusia. sepanjang sejarah budaya manusia, simbil telah mewarnai tindakan - tindakakn manusia baik tingkah laku, bahasa, ilmu dan religi.

menurut analisis saya, upacara pernikahan adat Jawa harus dilestarikan karena didalamnya ada nilai - nilai edukasi yang tinggi. setiap prosesi dan simbol - simbol dalam upacara pernikahan adat Jawa memilikki nilai dan filosofi dan semuanya bermakna baik. terlepas dari ada tidaknya hukum upacara adat pernikahan Jawa dalam agama, tetapi dengan melestarikan budaya tersebuit maka akan melestarikan budaya negara kita sendiri.


REFERENSI


https://id.wikipedia.org/wiki/Upacara_pernikahan#Adat_pernikahan_Yogyakarta
http://idazdekorasi.com/upacara-pernikahan-adat-jawa-tengah/
http://www.jagadkejawen.com/index.php?option=com_content&view=article&id=7&Itemid=7&lang=id
http://www.binasyifa.com/849/26/26/adat-istiadat-perkawinan-jawa-tengah.htm
https://id.wikipedia.org/wiki/Adat

1 komentar:

  1. Menikah adalah tujuan dan impian Semua orang, Melalui HIS Graha Elnusa Wedding Package , anda bisa mendapatkan paket lengkap mulai dari fasilitas gedung full ac, full carpet, dan lampu chandeliar yg cantik, catering dengan vendor yang berpengalaman, dekorasi, rias busana, musik entertainment, dan photoghraphy serta videography.
    Hubungi : 0822 – 9914 – 4728 (Rizky)
    Kenyaman dan kemewahan yang anda dapat adalah tujuan utama kami.

    BalasHapus